Warta

Mahasiswa dan Dosen Polnes Temukan Teknologi Baru, Atasi Limbah Industri Laundry

DEKADE, SAMARINDA – Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) bikin kejutan. Dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Kimia, berhasil menemukan teknologi anyar untuk mengatasi limbah industri laundry.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM RE) di sana, mengembangkan terobosan baru sebagai upaya remediasi air limbah laundry. Sumber pendanaannya dari Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) 2025.

Tim PKM RE beranggotakan lima mahasiswa dari Jurusan Teknik Kimia. Mereka adalah Anjasmoro, Faris Achmad Parmadi, Amalia Wulandari, Rafa Hasna Aurelia, dan Erinda Aulia Valentine. Di bawah bimbingan Ir. Zainal Arifin, ST., M.Eng., IPM, mereka berhasil menciptakan sebuah metode hibrid sono-elektrokoagulasi.

Metode inovatif ini dirancang untuk mengatasi masalah limbah laundry dengan efisiensi tinggi. Terutama dalam menghilangkan mikrofiber dan surfaktan.

Berdasarkan data statistik, rata-rata konsumsi air dan jumlah limbah yang dihasilkan dari usaha laundry terus meningkat. Limbah laundry mengandung berbagai polutan berbahaya. Seperti surfaktan, detergen, pewangi, dan mikroplastik. Khususnya mikrofiber, yang dapat mencemari lingkungan seperti sumber air.

Metode hibrid sono-elektrokoagulasi menggabungkan dua teknologi canggih. Pertama, sono-kimia (ultrasound) yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menghasilkan gelembung kavitasi yang kolaps secara ekstrem.

Kolaps ini menciptakan kondisi tekanan dan suhu tinggi yang mampu memecah rantai molekul polutan kompleks. Kedua, elektrokoagulasi yang memanfaatkan arus listrik untuk mengkoagulasi atau menggumpalkan partikel-partikel polutan.

Hasil uji coba menunjukkan, metode hibrid sono-elektrokoagulasi mampu menghilangkan mikrofiber dan surfaktan hingga 90 persen dari air limbah laundry. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar untuk diterapkan pada skala yang lebih besar, baik untuk industri laundry maupun rumah tangga.

Selain itu, penggunaan teknologi ini juga memiliki dampak positif lain. Prosesnya tidak memerlukan bahan kimia tambahan, sehingga lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Biaya operasional yang relatif rendah menjadikan teknologi ini solusi yang realistis untuk pengolahan limbah.

“Kami berharap temuan ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di Indonesia. Limbah laundry seringkali disepelekan, padahal dampaknya sangat serius bagi ekosistem perairan,” terang Anjasmoro, Ketua Tim PKM RE.

Sementara itu, Ir. Zainal Arifin, ST., M.Eng., IPM mengatakan, keberhasilan Tim PKM RE dari Jurusan Teknik Kimia Polnes ini tidak hanya membuktikan kapasitas mahasiswa Kalimantan Timur (Kaltim) dalam menciptakan inovasi. Tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan teknologi green technology yang lebih canggih di masa depan.

“Proyek PKM RE ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan dukungan institusi dapat menghasilkan solusi konkret untuk tantangan lingkungan yang mendesak,” ungkapnya.

“Tantangan berikutnya adalah mengaplikasikan metode ini secara komersial dan menyosialisasikannya kepada para pelaku usaha laundry,” timpal Zainal Arifin. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button